Senin, 30 Juli 2012

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Oleh :  W.S. Rendra


Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.

telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

 

SANG PENYEMANGAT

(dialah guruku)
Hatiku begitu menggebu
Setiap kudengar tausiyah suci itu
Rangkai katanya merona hatiku
Alur ritmiknya memerah telingaku
Jiwaku menggebu haru bertalu
Setiap derap pergerakan dihentakkan
Menyentak rasa lengang sanubari
Menggetar senyap keterlenaanku
Wahai geloraku, jangan tenggelamkan
Rasa cintaku pada perjuangan ini
Hanya karena tak bertemu sang guru
Yang selalu mengetuk pintu hatimu
Sematkan dalam ingatanmu,
Pandangan optimis penuh harapan
Seperti menatap indahnya langit biru
Penuh cahaya, menghangatkan hati
Agar kusambut langkah perjuangan itu,
Bersama kalam dan sabda yang tlah terpatri
Buktikan rasa peduli, simbol pemberani
Agar sinarnya terangi persada ini
Jadilah bunga yang harum di persada ini
Yang menebar wangi, pesona alami
Bangkit dan melangkahlah dengan pasti
Peradaban di negeri ini harus tegak berdiri

telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

MENGUSIR MALAS

Hai , malas yang mengungkungku
Kuingin menghancurkanmu
Karena kau telah menelan masaku
Hai, malas yang selalu lekat menyelinggkup tubuhku
Pada tiap sisi ruang dan waktu
Bodohnya aku tak kuasa menepis keangkuhanmu
Meski telah kuupayakan
Tak bertegur sama denganmu
Kau terus saja menggapai-gapai menarikku
Setiap langkah yang terarah melawanmu
Magnet kemalasan pasang kuda-kuda menjeratku
Kurasa kantuk, berkeringat, pusing dan pegal
Menyeretku kepembaringan…..
Melenakanku dalam mimpi kesiangan
Oh…….
Kemalasan enyahlah…..
Aku tak hendak kehabisan…..
W a k t u b e r h a r g a k u

telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

Mengenang Bung Hatta

Sosok yang begitu fenomental dalam sejarah bangsa ini, dan merupakan salah satu proklamator kemerdekaan tanah air, juga terkenal sebagai pribadi yang intelektual, jujur, sederhana dan menampakkan komitmennya yang tinggi kepada kemerdekaan bangsa dan pergerakan nilai-nilai demokrasi dan ekonomi politik yang sangat brilian hingga saat ini. Siapakah gerangan sosok tersebut?. Tidak lain jawabannya adalah Muhammad Hatta. Ya! Muhammad Hatta yang biasa disapa hangat oleh khalayak ramai dengan panggilan Bung Hatta.
Wakil presiden Republik Indonesia yang pertama, yang juga dinisbatkan sebagai bapak koperasi Indonesia ini lahir di Bukittinggi tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1902. Ayahanda Hatta adalah Haji Mohammad Djamil seorang Ulama’ mashur di Sumatra Barat. Menurut Hamka, nama Muhammad Hatta diambil dari nama lengkap seorang tokoh muslim, yakni (Ahmad Ibn) Muhammad (Ibn Abdul Al-Karim Ibn) Ato-Illah Al-Sakandari pengarang kitab Al-Hikam.

Bung Hatta Yang Gila Buku
Tidak bisa dipungkiri bahwa sang proklamator yang satu ini adalah orang yang masuk dalam kategori gila buku. Bagaimana tidak? Kemanapun ia pergi, buku selalu menjadi pendampingnya. Tak heran jika sesekali kakak beliau Lembaq Tuah pernah berujar, ”Adekku yang satu ini adalah orang yang gemar membaca buku,  dan perihal ini tumbuh semenjak ia masih kecil, setiap lembar kertas dari bukunya selalu dibukanya secara hati-hati dan dibacanya secara cermat.” Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa istri pertama Bung Hatta adalah buku. Menggelikan bukan!
Suatu ketika Ibunda Bung Hatta pernah jengkel kepada putranya. Kejengkelan muncul karena pada saat pernikahan sang proklamator ini, hadiah atau mas kawin yang diberikan adalah bukan barang yang lazim diberikan calon pengantin laki-laki kepada calon istri seperti emas atau perak. Namun yang diberikan sebagai mas kawin pada pernikahan tersebut adalah buku. Yah! Sebuah buku yang berjudul “ Alam Pikiran Yunani”  hasil  karya yang baru saja selesai ia kerjakan. Tentu saja sang Ibunda tidak setuju dengan mas kawin buku itu. Namun dengan rendah hati Bung Hatta menjelaskan kepada sang ibunda, bahwa buku adalah barang yang teramat berharga baginya melebihi emas dan perak sekalipun.
Bagi Bung Hatta, buku seperti halnya sebuah benda sakral. Mungkin  dalam dunia pergerakan,  Hatta adalah aktifis yang paling banyak membaca dan menulis. Konon, ketika ia masih kuliah di Amsterdam, kamar Hatta dipenuhi dengan buku-buku bacaan yang beraneka ragam macamnya. Begitupun dalam kehidupan sehari-hari, Hatta selalu memiliki waktu khusus untuk belajar. Beliau adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan kegairahan atau perempuan. Kekasih Bung Hatta adalah buku-buku dan buku. Hingga lahir anekdot lain yang mengatakan ”Isrti pertama Hatta adalah buku, istri kedua adalah buku dan istri ketiga baru Rahma Rachim.”
Sang Penulis Ulung
Sosok Hatta adalah orang yang berjuang seluruh hidup dengan ketajaman pena. Dan hingga saat ini masyarakat masih bisa merasakan hasil karya pemikiranya yang dituangkan dalam sebuah buku. Bung Hatta giat menulis sejak usia yang relatif muda, yakni ketika ia aktif menjadi anggota Jong Sumatranen Bond.
Dalam tulisan-tulisanya, bung Hatta banyak menganjurkan kepada rakyat agar berjuang semaksimal mungkin untuk mencapai kemerdekaan. Ketika menjadi mahasiswa di Belanda, beliau selalu menganjurkan agar golongan merdeka (kelompok simpatisan yang terbentuk setelah PNI dibubarkan) mendirikan partai yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Partai ini kemudian menerbitkan majalah baru yang bernama Daulat Rakyat. Sebuah nama yang diberikan oleh Bung Hatta. Meskipun beliau berada nan jauh di seberang sana, namun tulisan-tulisanya tetap menghiasi majalah Daulat Rakyat, yang tidak lain mempunyai tujuan untuk membangkitkan semangat juang dan memberikan pendidikan politik kepada rakyat Indonesia.
Itulah sekilas tentang biografi Bung Hatta. Seorang prolamator yang cinta akan buku dan juga penulis ulung yang karya-karyanya hingga saat ini masih mempunyai andil dalam kemajuan khasanah keilmuan. Adapun karya tulis Bung Hatta terhitung banyak jumlahnya. Kurang lebih ada 86 karya tulis dengan berbagai macam topik yang dibahas. Diantaranya, Tujuan Dan Politik Pergerakan Nasional Indonesia (1931), Krisis Ekonomi Dan Kapitalisme (1934), Rasionalisasi (1939), Alam Pikiran Yunani (1941), Mendayung Antara Dua Karang (1946), dan masih banyak yang lain.
Akhirnya, dengan  sepenggal kata “luar biasa” menjadi pamungkas tulisan ini, sebagai ungkapan rasa kagum kepada Bung Hatta. Sosok yang hidup serba kekurangan dan dengan fasilitas yang seadanya telah mampu menggores tinta emas pada sejarah peradaban Indonesia.  Sungguh! sosok yang patut dijadikan teladan bagi para kawula muda dimanapun berada.
(by : Redaksi )
 
telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

“Wejangan” dari Mabincab untuk Sahabat


Denganmu PMII, pergerakanku
Ilmu dan bakti kuberikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku
 Masih terekam jelas dalam ingatan penulis suara khas sang Mabincab yakni KH. Achmad Chalwani Nawawi yang menyanyikan penggalan syair lagu mars PMII di sela-sela penyampaian materinya pada waktu pembukaan Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Desa Sidoarjo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo pada tahun lalu. Meski hanya sekedar penggalan, namun perihal tersebut membuat kagum dan haru para peserta PKD. Pasalnya KH. A. Chalwani yang selama ini dikenal sebagai Da’i kondang ternyata dulu juga seorang aktifis PMII yang tentunya aktif menyuarakan suara rakyat. Dan rasa haru pun bertambah ketika sesekali beliau berkata: “Kalau saya berada di depan anda semua (peserta PKD), seraya saya itu jadi PMII lagi”.
 Kyai Chalwani muda adalah seorang aktifis  PMII di Lirboyo ketika masih kuliah di Tribakti. Beliau menceritakan bahwa kuliahnya tidak bisa selesai dikarenakan ayahanda Kyai Nawawi sakit dan beliau dipanggil untuk pulang. Meski demikian, perihal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau dalam menimba ilmu. Dengan pembawaan yang santai tapi tenang, beliau berkata “Tapi nggak apalah, walaupun kuliah nggak sampai selesai tapi sudah nyampek Senayan (menjabat sebagai anggota DPD Jawa Tengah-red).” Penuturan beliau langsung disambut gelagak tawa oleh para peserta.
Dihadapan para kader, beliau menyampaikan  bahwa dari dulu sampai sekarang hubungan PMII dengan NU masih terdapat polemik, akan tetapi menurut beliau perihal tersebut merupakan perihal yang lumrah, dan itu merupakan seni. Karena yang terpenting meskipun PMII secara sruktural tidak dibawah naungan NU akan tetapi PMII juga memperjuangkan nilai-nilai NU yakni akidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Ada beberapa wejangan yang beliau sampaikan kepada para kader menjelang pembukaan acara PKD tersebut, diantaranya:
1.    Hendaknya para kader PMII untuk tidak lepas atau miss communication dengan para alim Ulama’. Karena dari merekalah kalian dapat mengambil petuah-petuah yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup.
2.    Para kader PMII haruslah pandai-pandai memfilter dan peka terhadap berbagai kebudayaan baru yang muncul serta mampu mamanfaatkan kecanggihan ilmu teknologi saat ini.  
3.    Kader PMII hendaknya memegang teguh  prinsip “al-Muhafazdah ‘ala qadim al-shalih wa al-akhzdu bi al-jadid al-ashlah”  yang dalam bahasa PMII berarti “Berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian”.
4.    Para kader PMII harus senatiasa sabar dalam mengahadapi berbagai masalah baik yang bersifat internal maupun masalah eksternal. Karena sudah merupakan sunatullah, bahwa manusia hidup di dunia tidak mungkin lepas ataupun luput dengan yang namanya masalah.
Lebih lanjut Kyai Chalwani menjelaskan bahwa menjadi kader PMII tak ubahnya menjadi seorang pejuang yang harus siap menerima berbagai rintangan dan tantangan, serta harus rela berkorban menegakkan keadilan dan memperjuangkan hak-hak rakyat. Jika sifat sabar tidak dimiliki oleh para kader, maka menjadi hal yang mustahil jika keinginan memperjuangkan keadilan akan terwujud. Beliau pun mengutip pernyataan Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanara al-Bantani yang berkata: “al-Shabr Ka al-Sibr”, sabar itu seperti beratawali (sebuah tumbuhan yang sangat terasa pahit).
Berjuang memang pahit terasa seperti halnya meminum jamu,  tapi tentunya kita tahu bahwa setelah minum jamu yang pahit kemungkinan besar kita akan kembali fit. Perjuangan itu terasa pahit, sangat pahit”. Demikian ungkapnya. Semua nabi berjuang tidak ada yang terasa enak, semuanya pahit, banyak tantangan yang harus dihadapi. Maka, kalau hendak berjuang, bersiaplah mengalami kepahitan!” Lanjut beliau. Tidak ada perjuangan yang mudah serasa membalikkan telapak tangan.
Beliau pun menukil sebuah nasehat yang termaktub dalam kitab Nurul Abshar yang berisi mau’idloh-mau’idloh dari para wali disebutkan bahwa Syekh Abi Hasan al-Syazdili berkata bahwa tidaklah seorang alim itu sampai dipuncak keilmuan dan kesuksesan sebelum diuji oleh Allah SWT. Diantaranya, dijadikan bahan pembicaraan orang yang memusuhi. Dan ketika menjadi kader PMII Purworejo dan banyak digunjing orang lain maka janganlah berkecil hati. Syekh Syadzili pun mengatakan “Fain shabara ‘ala zdalika, shara imaman muqtadan bih, ketika sabar menjalani ujian tersebut maka akan jadi pemimpin yang diikuti oleh rakyatnya”.
 Demikianlah sekilas tentang wejangan Sang Mabincab yang dapat penulis uraikan untuk para sahabat. Meski ditujukan kepada para kader PKD dikala itu, namun masihlah relefan untuk dijadikan renungan dan pijakan bagi para sahabat siapapun itu dan dan dimanapun berada. 
Wallahu a’lam bishawab…

( by:  Sukabul and Turmudzi A.) 
telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

Minggu, 29 Juli 2012

Sekapur Sirih



Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Begitulah kata yang layak kami ucapan untuk mengawali kata pengantar dalam buletin ini. “To Care” adalah sebuah nama buletin yang mungkin masih terasa asing bagi khalayak umum untuk mendengar atau sekedar membaca.  Dan sudah menjadi maklum, karena memang buletin ini sudah pernah terbit namun kemudian mengalami kevakuman yang cukup bekerpanjangan. “To Care” adalah sebuah nama buletin yang dibentuk dan didirikan oleh PMII Komisariat An-Nawawi dan dipelopori oleh sahabat Anwar Ma’rufi ini tentu mempunyai nilai filosofi yang cukup tinggi.
Sebagaimana diketahui, "To Care"  merupakan  kata yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti Peduli. Jadi buletin ini memiliki orientasi peduli terhadap keilmuan sosial, politik, pendidikan, ekonomi dan lain lain. Karena nilai filosofi yang cukup tinggi itulah, membuat kami selaku Team Redaksi Buletin PMII Komisariat An-Nawawi yang baru, berniat melestarikan nilai lama yang ada pada buletin sebelumnya.
Akhirnya dengan harapan dapat merealisasikan visi dan misi buletin sesuai yang diharapkan pengurus PMII Komisariat An-Nawawi, kami selaku kru buletin akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan buletin yang berbobot dan mempunyai andil yang cukup signifikan dalam menambah cakrawala keilmuan bagi sahabat-sahabati komisariat di ruang lingkup kabupaten Purworejo pada khususnya dan khalayak umum pada umumnya.