Senin, 30 Juli 2012

“Wejangan” dari Mabincab untuk Sahabat


Denganmu PMII, pergerakanku
Ilmu dan bakti kuberikan
Adil dan makmur kuperjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku
 Masih terekam jelas dalam ingatan penulis suara khas sang Mabincab yakni KH. Achmad Chalwani Nawawi yang menyanyikan penggalan syair lagu mars PMII di sela-sela penyampaian materinya pada waktu pembukaan Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Desa Sidoarjo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo pada tahun lalu. Meski hanya sekedar penggalan, namun perihal tersebut membuat kagum dan haru para peserta PKD. Pasalnya KH. A. Chalwani yang selama ini dikenal sebagai Da’i kondang ternyata dulu juga seorang aktifis PMII yang tentunya aktif menyuarakan suara rakyat. Dan rasa haru pun bertambah ketika sesekali beliau berkata: “Kalau saya berada di depan anda semua (peserta PKD), seraya saya itu jadi PMII lagi”.
 Kyai Chalwani muda adalah seorang aktifis  PMII di Lirboyo ketika masih kuliah di Tribakti. Beliau menceritakan bahwa kuliahnya tidak bisa selesai dikarenakan ayahanda Kyai Nawawi sakit dan beliau dipanggil untuk pulang. Meski demikian, perihal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau dalam menimba ilmu. Dengan pembawaan yang santai tapi tenang, beliau berkata “Tapi nggak apalah, walaupun kuliah nggak sampai selesai tapi sudah nyampek Senayan (menjabat sebagai anggota DPD Jawa Tengah-red).” Penuturan beliau langsung disambut gelagak tawa oleh para peserta.
Dihadapan para kader, beliau menyampaikan  bahwa dari dulu sampai sekarang hubungan PMII dengan NU masih terdapat polemik, akan tetapi menurut beliau perihal tersebut merupakan perihal yang lumrah, dan itu merupakan seni. Karena yang terpenting meskipun PMII secara sruktural tidak dibawah naungan NU akan tetapi PMII juga memperjuangkan nilai-nilai NU yakni akidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Ada beberapa wejangan yang beliau sampaikan kepada para kader menjelang pembukaan acara PKD tersebut, diantaranya:
1.    Hendaknya para kader PMII untuk tidak lepas atau miss communication dengan para alim Ulama’. Karena dari merekalah kalian dapat mengambil petuah-petuah yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup.
2.    Para kader PMII haruslah pandai-pandai memfilter dan peka terhadap berbagai kebudayaan baru yang muncul serta mampu mamanfaatkan kecanggihan ilmu teknologi saat ini.  
3.    Kader PMII hendaknya memegang teguh  prinsip “al-Muhafazdah ‘ala qadim al-shalih wa al-akhzdu bi al-jadid al-ashlah”  yang dalam bahasa PMII berarti “Berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian”.
4.    Para kader PMII harus senatiasa sabar dalam mengahadapi berbagai masalah baik yang bersifat internal maupun masalah eksternal. Karena sudah merupakan sunatullah, bahwa manusia hidup di dunia tidak mungkin lepas ataupun luput dengan yang namanya masalah.
Lebih lanjut Kyai Chalwani menjelaskan bahwa menjadi kader PMII tak ubahnya menjadi seorang pejuang yang harus siap menerima berbagai rintangan dan tantangan, serta harus rela berkorban menegakkan keadilan dan memperjuangkan hak-hak rakyat. Jika sifat sabar tidak dimiliki oleh para kader, maka menjadi hal yang mustahil jika keinginan memperjuangkan keadilan akan terwujud. Beliau pun mengutip pernyataan Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanara al-Bantani yang berkata: “al-Shabr Ka al-Sibr”, sabar itu seperti beratawali (sebuah tumbuhan yang sangat terasa pahit).
Berjuang memang pahit terasa seperti halnya meminum jamu,  tapi tentunya kita tahu bahwa setelah minum jamu yang pahit kemungkinan besar kita akan kembali fit. Perjuangan itu terasa pahit, sangat pahit”. Demikian ungkapnya. Semua nabi berjuang tidak ada yang terasa enak, semuanya pahit, banyak tantangan yang harus dihadapi. Maka, kalau hendak berjuang, bersiaplah mengalami kepahitan!” Lanjut beliau. Tidak ada perjuangan yang mudah serasa membalikkan telapak tangan.
Beliau pun menukil sebuah nasehat yang termaktub dalam kitab Nurul Abshar yang berisi mau’idloh-mau’idloh dari para wali disebutkan bahwa Syekh Abi Hasan al-Syazdili berkata bahwa tidaklah seorang alim itu sampai dipuncak keilmuan dan kesuksesan sebelum diuji oleh Allah SWT. Diantaranya, dijadikan bahan pembicaraan orang yang memusuhi. Dan ketika menjadi kader PMII Purworejo dan banyak digunjing orang lain maka janganlah berkecil hati. Syekh Syadzili pun mengatakan “Fain shabara ‘ala zdalika, shara imaman muqtadan bih, ketika sabar menjalani ujian tersebut maka akan jadi pemimpin yang diikuti oleh rakyatnya”.
 Demikianlah sekilas tentang wejangan Sang Mabincab yang dapat penulis uraikan untuk para sahabat. Meski ditujukan kepada para kader PKD dikala itu, namun masihlah relefan untuk dijadikan renungan dan pijakan bagi para sahabat siapapun itu dan dan dimanapun berada. 
Wallahu a’lam bishawab…

( by:  Sukabul and Turmudzi A.) 
telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar