Sosok yang begitu fenomental dalam sejarah bangsa ini, dan merupakan salah satu proklamator kemerdekaan tanah air, juga terkenal sebagai pribadi yang intelektual, jujur, sederhana dan menampakkan komitmennya yang tinggi kepada kemerdekaan bangsa dan pergerakan nilai-nilai demokrasi dan ekonomi politik yang sangat brilian hingga saat ini. Siapakah gerangan sosok tersebut?. Tidak lain jawabannya adalah Muhammad Hatta. Ya! Muhammad Hatta yang biasa disapa hangat oleh khalayak ramai dengan panggilan Bung Hatta.
Wakil presiden Republik Indonesia yang pertama, yang juga dinisbatkan sebagai bapak koperasi Indonesia ini lahir di Bukittinggi tepatnya pada tanggal 12 Agustus 1902. Ayahanda Hatta adalah Haji Mohammad Djamil seorang Ulama’ mashur di Sumatra Barat. Menurut Hamka, nama Muhammad Hatta diambil dari nama lengkap seorang tokoh muslim, yakni (Ahmad Ibn) Muhammad (Ibn Abdul Al-Karim Ibn) Ato-Illah Al-Sakandari pengarang kitab Al-Hikam.
Bung Hatta Yang Gila Buku
Tidak bisa dipungkiri bahwa sang proklamator yang satu ini adalah orang yang masuk dalam kategori gila buku. Bagaimana tidak? Kemanapun ia pergi, buku selalu menjadi pendampingnya. Tak heran jika sesekali kakak beliau Lembaq Tuah pernah berujar, ”Adekku yang satu ini adalah orang yang gemar membaca buku, dan perihal ini tumbuh semenjak ia masih kecil, setiap lembar kertas dari bukunya selalu dibukanya secara hati-hati dan dibacanya secara cermat.” Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa istri pertama Bung Hatta adalah buku. Menggelikan bukan!
Suatu ketika Ibunda Bung Hatta pernah jengkel kepada putranya. Kejengkelan muncul karena pada saat pernikahan sang proklamator ini, hadiah atau mas kawin yang diberikan adalah bukan barang yang lazim diberikan calon pengantin laki-laki kepada calon istri seperti emas atau perak. Namun yang diberikan sebagai mas kawin pada pernikahan tersebut adalah buku. Yah! Sebuah buku yang berjudul “ Alam Pikiran Yunani” hasil karya yang baru saja selesai ia kerjakan. Tentu saja sang Ibunda tidak setuju dengan mas kawin buku itu. Namun dengan rendah hati Bung Hatta menjelaskan kepada sang ibunda, bahwa buku adalah barang yang teramat berharga baginya melebihi emas dan perak sekalipun.
Bagi Bung Hatta, buku seperti halnya sebuah benda sakral. Mungkin dalam dunia pergerakan, Hatta adalah aktifis yang paling banyak membaca dan menulis. Konon, ketika ia masih kuliah di Amsterdam, kamar Hatta dipenuhi dengan buku-buku bacaan yang beraneka ragam macamnya. Begitupun dalam kehidupan sehari-hari, Hatta selalu memiliki waktu khusus untuk belajar. Beliau adalah sosok yang jauh dari kemewahan dan kegairahan atau perempuan. Kekasih Bung Hatta adalah buku-buku dan buku. Hingga lahir anekdot lain yang mengatakan ”Isrti pertama Hatta adalah buku, istri kedua adalah buku dan istri ketiga baru Rahma Rachim.”
Sang Penulis Ulung
Sosok Hatta adalah orang yang berjuang seluruh hidup dengan ketajaman pena. Dan hingga saat ini masyarakat masih bisa merasakan hasil karya pemikiranya yang dituangkan dalam sebuah buku. Bung Hatta giat menulis sejak usia yang relatif muda, yakni ketika ia aktif menjadi anggota Jong Sumatranen Bond.
Dalam tulisan-tulisanya, bung Hatta banyak menganjurkan kepada rakyat agar berjuang semaksimal mungkin untuk mencapai kemerdekaan. Ketika menjadi mahasiswa di Belanda, beliau selalu menganjurkan agar golongan merdeka (kelompok simpatisan yang terbentuk setelah PNI dibubarkan) mendirikan partai yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Partai ini kemudian menerbitkan majalah baru yang bernama Daulat Rakyat. Sebuah nama yang diberikan oleh Bung Hatta. Meskipun beliau berada nan jauh di seberang sana, namun tulisan-tulisanya tetap menghiasi majalah Daulat Rakyat, yang tidak lain mempunyai tujuan untuk membangkitkan semangat juang dan memberikan pendidikan politik kepada rakyat Indonesia.
Itulah sekilas tentang biografi Bung Hatta. Seorang prolamator yang cinta akan buku dan juga penulis ulung yang karya-karyanya hingga saat ini masih mempunyai andil dalam kemajuan khasanah keilmuan. Adapun karya tulis Bung Hatta terhitung banyak jumlahnya. Kurang lebih ada 86 karya tulis dengan berbagai macam topik yang dibahas. Diantaranya, Tujuan Dan Politik Pergerakan Nasional Indonesia (1931), Krisis Ekonomi Dan Kapitalisme (1934), Rasionalisasi (1939), Alam Pikiran Yunani (1941), Mendayung Antara Dua Karang (1946), dan masih banyak yang lain.
Akhirnya, dengan sepenggal kata “luar biasa” menjadi pamungkas tulisan ini, sebagai ungkapan rasa kagum kepada Bung Hatta. Sosok yang hidup serba kekurangan dan dengan fasilitas yang seadanya telah mampu menggores tinta emas pada sejarah peradaban Indonesia. Sungguh! sosok yang patut dijadikan teladan bagi para kawula muda dimanapun berada.
(by : Redaksi )
telah terbit dalam buletin to care edisi I bulan Juli 2012


Tidak ada komentar:
Posting Komentar